HILANGNYA KERIS SANG BIMA (Analisis Religi dalam Adat Bima)
Bima bukan sekadar sebuah wilayah di ujung timur Pulau Sumbawa. Bima adalah ruang sejarah, ruang kebudayaan, sekaligus ruang pergulatan religi yang telah melahirkan tradisi, simbol, dan identitas masyarakat selama berabad-abad. Di tengah perjalanan sejarah itu, terdapat berbagai benda pusaka yang tidak hanya memiliki nilai material, tetapi juga mengandung makna simbolik. Salah satunya adalah Kris Sang Bima. Namun ketika pusaka itu hilang, pertanyaan yang muncul bukan semata-mata: di mana kris itu sekarang? Pertanyaan yang jauh lebih dalam adalah: apa yang sesungguhnya ikut hilang bersama Kris Sang Bima?
Apakah hanya sebuah benda pusaka? Ataukah sebagian dari ingatan sejarah, nilai adat, dan kesadaran religi masyarakat Bima? Kris Bukan Sekadar Senjata. Dalam kebudayaan Nusantara, keris atau senjata pusaka tidak selalu dipandang semata-mata sebagai alat perang. Ia dapat menjadi simbol keberanian, kehormatan, kewibawaan, kepemimpinan, tanggung jawab, dan sejarah suatu komunitas.
Karena itu, apabila kita berbicara tentang Kris Sang Bima, kita harus berhati-hati membedakan antara nilai simbolik budaya dan keyakinan mistis. Islam tidak mengajarkan bahwa sebuah benda mempunyai kekuatan gaib yang berdiri sendiri. Kekuatan mutlak hanya milik Allah. Allah berfirman:
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا
"Katakanlah: Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami."
(QS. At-Taubah: 51)
Dengan demikian, sebuah pusaka boleh dipandang sebagai peninggalan sejarah dan simbol budaya, tetapi tidak boleh diyakini memiliki kekuatan independen yang menentukan nasib manusia. Di sinilah pentingnya membaca kembali pusaka Bima melalui perspektif Islam.
Dari Simbol Menuju Nilai
Benda pusaka pada akhirnya bukanlah tujuan. Yang jauh lebih penting adalah nilai yang disimbolkannya. Jika Kris Sang Bima dahulu menjadi simbol keberanian, maka keberanian itu harus diwariskan kepada generasi sekarang. Jika ia menjadi simbol kewibawaan pemimpin, maka yang harus diwariskan adalah kepemimpinan yang adil. Jika ia menjadi simbol kehormatan, maka yang harus dipelihara adalah akhlak. Jika ia menjadi simbol persatuan, maka yang harus dijaga adalah persaudaraan masyarakat Bima. Jangan sampai pusakanya kita cari, tetapi nilai yang dikandungnya justru kita tinggalkan. Sebab bisa jadi, yang lebih tragis daripada hilangnya sebuah benda pusaka adalah hilangnya karakter masyarakat yang dahulu melahirkan makna pusaka tersebut.
Adat Bima dan Islam
Dalam sejarah Bima, Islam bukan sekadar agama yang datang kemudian lalu berdiri terpisah dari adat. Islam mengalami proses panjang dalam membentuk kehidupan sosial, pemerintahan, pendidikan, bahasa, kesenian, dan tradisi masyarakat. Prinsip yang sangat terkenal dalam hubungan Islam dan adat adalah: "Adat bersendi syara', syara' bersendi Kitabullah." Prinsip tersebut mengandung pesan bahwa adat tidak boleh berjalan bertentangan dengan syariat.
Adat yang baik dipelihara. Tradisi yang mengandung kemaslahatan dijaga. Sementara praktik yang bertentangan dengan tauhid dan syariat harus ditinggalkan. Dengan cara pandang seperti ini, kita tidak perlu mempertentangkan antara Islam dan budaya Bima. Yang perlu dilakukan adalah menyaring budaya dengan nilai Islam. Hilangnya Kris, Hilangnya Ingatan? Hilangnya sebuah benda sejarah seharusnya menjadi alarm bagi masyarakat. Sebab ketika benda-benda pusaka hilang, manuskrip rusak, makam leluhur tidak terawat, cerita rakyat tidak dicatat, dan sejarah hanya disampaikan dari mulut ke mulut, maka suatu saat generasi berikutnya akan kehilangan sumber untuk mengenali dirinya sendiri.
Masyarakat yang kehilangan sejarah akan mudah kehilangan identitas. Dan masyarakat yang kehilangan identitas akan mudah mengikuti budaya apa saja tanpa mampu membedakan mana yang sesuai dengan nilai luhur leluhurnya dan mana yang justru merusaknya. Karena itu, persoalan Kris Sang Bima tidak seharusnya berhenti pada pencarian benda. Yang harus dicari juga adalah jejak sejarahnya. Siapa yang membuatnya? Siapa yang memegangnya? Apa fungsi simboliknya? Di mana ia pernah disimpan? Bagaimana masyarakat Bima dahulu memaknainya? Dan yang paling penting, nilai apa yang hendak diwariskan kepada generasi setelahnya? Jangan Mengkultuskan Pusaka.
Di tengah upaya melestarikan budaya, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Kita boleh menghormati pusaka. Kita boleh merawat pusaka. Kita boleh mempelajari sejarah pusaka. Kita boleh menjadikannya simbol identitas budaya. Tetapi jangan sampai penghormatan berubah menjadi pengkultusan. Seorang Muslim harus tetap meyakini bahwa, yang memberi kekuatan adalah Allah, bukan benda. Yang memberi keselamatan adalah Allah. Yang memberi kemuliaan adalah Allah. Yang menentukan hidup dan mati adalah Allah. Dengan demikian, pelestarian budaya justru dapat menjadi sarana memperkuat tauhid apabila ditempatkan secara benar.
Sang Bima dan Tanggung Jawab Generasi Sekarang
Nama Sang Bima sendiri mengandung sejarah panjang tentang asal-usul dan identitas Bima. Tetapi generasi hari ini tidak cukup hanya bangga menyebut nama Sang Bima. Kita harus bertanya, Apa yang telah kita lakukan untuk Bima? Apakah kita menjaga bahasa daerah? Apakah kita menjaga sopan santun? Apakah kita menghormati orang tua? Apakah kita menjaga masjid? Apakah kita menghargai ulama? Apakah kita menjaga kejujuran? Apakah kita mendidik anak-anak dengan agama? Apakah kita menjaga alam dan tanah kelahiran? Apakah kita mempertahankan semangat gotong royong.? Jika jawabannya tidak, maka jangan-jangan Kris Sang Bima bukan satu-satunya yang hilang. Yang sedang hilang adalah jiwa Sang Bima dalam diri kita.
Mengembalikan yang Hilang
Mungkin kita tidak mampu mengembalikan Kris Sang Bima secara fisik. Tetapi kita masih mampu mengembalikan semangat yang dilambangkannya. Kita dapat mengembalikan keberanian untuk berkata benar. Mengembalikan rasa malu ketika melakukan kemungkaran. Mengembalikan penghormatan kepada ulama dan guru. Mengembalikan budaya musyawarah. Mengembalikan semangat gotong royong. Mengembalikan tradisi membaca Al-Qur'an. Mengembalikan akhlak generasi muda dan mengembalikan adat kepada ruh yang selaras dengan syariat.
Sebab pusaka yang paling berharga bagi sebuah masyarakat bukanlah emas, keris, pedang, atau benda bersejarah lainnya. Pusaka terbesar adalah manusia yang berakhlak.
Penutup
Hilangnya Kris Sang Bima seharusnya tidak hanya menjadi kisah kehilangan sebuah benda. Ia harus menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: Apakah yang sebenarnya sedang hilang dari Bima? Mungkin yang hilang bukan hanya sebuah kris. Mungkin yang hilang adalah sebagian dari ingatan sejarah. Mungkin yang hilang adalah rasa memiliki terhadap warisan leluhur. Mungkin yang hilang adalah kewibawaan adat. Mungkin yang hilang adalah akhlak.
Dan mungkin yang paling mengkhawatirkan adalah ketika generasi Bima masih mengenal nama Sang Bima, tetapi tidak lagi mengenal nilai-nilai luhur yang seharusnya diwariskan dari sejarahnya. Maka tugas kita bukan sekadar menemukan kembali benda pusaka. Tugas kita adalah menemukan kembali jati diri. Menemukan kembali sejarah. Menemukan kembali adat yang luhur. Menemukan kembali akhlak. Dan akhirnya, menemukan kembali hubungan antara adat, ilmu, dan iman. Karena Bima tidak akan besar hanya karena memiliki pusaka.
Bima akan besar apabila anak-anak negerinya menjadi manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, dan berani menjaga kebenaran.
-100x100.png)





