BERITA


MTQ dan Konser Hiburan, Sebuah Kontradiksi yang Patut Dikoreksi

SMAN 1 Sape (16/06/2026)-Penutupan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Tingkat Provinsi NTB yang menghadirkan artis ibu kota untuk menyanyikan lagu-lagu yang tidak memiliki kaitan dengan Al-Qur'an maupun syiar Islam menimbulkan kekecewaan di tengah sebagian masyarakat muslim. Lebih-lebih ketika lagu yang dibawakan bernuansa hiburan umum dengan gaya dan nada yang cenderung membangkitkan syahwat serta mengundang penonton untuk larut dalam suasana yang jauh dari kekhusyukan.

Pertanyaannya sederhana: apa hubungan antara syiar Al-Qur'an dengan penampilan semacam itu?

MTQ adalah kegiatan yang dibangun di atas penghormatan terhadap Kalamullah. Nama "Musabaqah Tilawatil Qur'an" mengandung makna perlombaan membaca, menghafal, memahami, dan mengagungkan Al-Qur'an. Karena itu, seluruh rangkaian acaranya semestinya mencerminkan kemuliaan tujuan tersebut. Ketika penutupan MTQ justru diisi dengan nyanyian yang tidak berkaitan dengan nilai-nilai Al-Qur'an, maka wajar jika muncul anggapan bahwa ruh MTQ telah dikesampingkan.

Lebih memprihatinkan lagi apabila lagu-lagu yang dibawakan cenderung mengedepankan unsur hiburan semata, dengan irama dan gaya yang membangkitkan hawa nafsu. Hal ini bukan sekadar persoalan selera, tetapi menyangkut kesesuaian antara isi acara dengan tujuan syiar yang sedang diusung. Bagaimana mungkin sebuah kegiatan yang mengatasnamakan Al-Qur'an ditutup dengan pertunjukan yang tidak mengajak manusia untuk lebih dekat kepada Al-Qur'an, bahkan berpotensi mengalihkan perhatian dari pesan-pesan sucinya?

Kritik ini bukanlah bentuk kebencian terhadap seni atau para penyanyi. Akan tetapi, setiap kegiatan memiliki identitas dan kehormatannya masing-masing. Sebagaimana tidak pantas menjadikan arena olahraga sebagai tempat seminar politik, demikian pula tidak tepat menjadikan panggung MTQ sebagai arena konser yang tidak memiliki keterkaitan dengan syiar Al-Qur'an.

Para peserta MTQ telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menghafal ayat-ayat Allah, mempelajari tajwid, memahami makna Al-Qur'an, dan menjaga adab terhadapnya. Sungguh ironis apabila penghujung acara yang seharusnya menjadi puncak penghormatan terhadap Al-Qur'an justru dipenuhi oleh hiburan yang tidak mencerminkan nilai-nilai yang sedang diperjuangkan.

MTQ tidak membutuhkan kemeriahan yang menjauhkan manusia dari Al-Qur'an. Yang dibutuhkan adalah kegiatan yang semakin menguatkan kecintaan umat kepada Al-Qur'an. Sebab kemuliaan Al-Qur'an tidak hanya terletak pada bagaimana ia dibaca dalam perlombaan, tetapi juga pada bagaimana ia dihormati dalam setiap rangkaian kegiatan yang mengatasnamakan dirinya.

Jika benar MTQ adalah syiar Al-Qur'an, maka sudah sepatutnya Al-Qur'an menjadi ruh, arah, dan wajah acara dari awal hingga akhir. Jangan sampai Al-Qur'an hanya dijadikan simbol seremonial, sementara panggung utamanya justru diberikan kepada hal-hal yang tidak memiliki hubungan dengan pesan suci yang dibawanya.